Friday, January 20, 2017

Tips Mengolah Babat & Iso


Babat lagi..Iso lagi...hihi. Ya begitulah..kalau Yodha lagi suka suatu masakan...tak pernah bosan dia minta di masakin terus. Yodha suka Babat dan Iso...sejak suka makan Nasi goreng Babat di alun-alun Ungaran..ada beberapa yang enak di sana. Lalu berlanjut sering makan ke Pak Karmin di Mberok...Yodha tambah suka. Selanjutnya..tau sendiri dech...udah berkali-kali aku masakin sendiri di rumah..tetap nggak pernah bosan.

Babat dan Iso adalah jerohan Sapi bagian perut. Kalau di Semarang...banyak masakan pakai Babat & Iso ini. Yang sudah terkenal antara lain Babat Gongso, Nasi Goreng Babat. Pecel pakai Babat bacem, Bakso dll. Beneran lho teman-teman..jika makan Bakso kuah di Semarang yang versi jadul itu pakai jerohan lho di kuahnya. Seperti Bakso di Pak Geger dll yang legendaris. Dulu aku merasa aneh pertama makan Bakso kok kuahnya pakai Jerohan. Tapi..lama-lama jadi terbiasa..dan suka malah...hihi. Pokoknya warung makan yang menjual Babat dan Iso matang..banyak di Semarang..hihi. Aku dulu ya suka  banget makan Babat Iso. Tapi setelah di pikir-pikir udah semakin umur, nggak bagus juga kebanyakan kali ya makan Babat Iso ini..jadi kalau beli buat Yodha aja dech...kalau kepengen banget tingga minta sesuap..hihi.

Babat ada berbagai jenis, ada yang bagian lembaran tipis seperti handuk..hihi. Itu lebih mudah empuk..dan Yodha suka itu. Ada juga yang seperti sarang lebah..ini daging Babat bagian putihnya lebih tebal, namun agak lama merebusnya hingga empuk. Jika di Semarang, yang tebal dan seperti Sarang Lebah ini biasanya untuk campuran kuah Bakso, karena lebih kenyal dan padat. Sedang yang lembaran seperti handuk, banyak untuk campuran Nasi goreng, Babat Gongso atau di bacem untuk teman makan Pecel.

Biasa, jika beli aku beli banyak sekalian, misal Babat 1/2 kg, Iso 1/2 kg ..lalu aku presto semua. Jadi menyimpan di freezer sudah dalam kondisi matang dan siap di olah. Jadi nggak repot lagi mengurus Babat Iso mentah yang memang butuh waktu dan teliti. Sebelum mengolah Babat Iso, pastikan juga kita membeli yang bagus kondisinya dan segar. Kalau lihat di pedagang daging di pasar tuch kadang ada yang ngeri-ngeri sedap ih...Babat Isonya di taruh asal-asalan di ember...hihi. Kadang udah bertumpuk di situ berhari-hari jika aku lihat nggak fresh. 

Makanya aku kalau beli Babat Iso selalu ke tukang daging ya terpercaya...langgananku..yang dagangannya selalu habis setiap hari..dan malah jika tidak di pesan dulu...dia tidak membawa Babat, Iso, dll..jadi terjamin fresh dan baru dari tempat pemotongan sapinya. Alhamdulillah..jadi nggak ragu-ragu kasih makanan yang berbahan Babat dan Iso ini untuk Yodha. Memang sich..daripada beli matang dan kita nggak yakin asal usulnya, lebih baik beli dalam kondisi mentah dan segar, walau sedikit repot, tapi kan kualitas terjamin.

Untuk mengolah Babat dan Iso ini memang sedikit repot. Pertama kita harus membersihkannya dengan air mengalir hingga benar-benar bersih. Selanjutnya, kita rebus dulu hingga mendidih dan bergolak agar lebih steril, sebelum kita rebus hingga empuk. Cuci kembali hingga benar-benar bersih. Di tahap ini untuk isonya, biasanya isinya aku buang. Aku semprot aja pakai air mengalir yang kenceng gitu, karena Yodha suka Iso yang kosongan dan bersih..jadi tidak bau dan neg..katanya. Setelah bersih, lalu kita lakukan perebusan kedua. Agar lebih cepat, biasanya aku pakai panci tekan atau presto, agar menghemat waktu dan lebih cepat empuknya. 

Waktu merebus dengan panci presto ini, tambahkan banyak daun salam, agar aroma amis dan tidak sedap dari babat atau isonya berkurang.  Bisa juga di tambahkan jahe agar tidak ada aroma amis tertinggal. Jika mau lebih enak lagi, selama proses perebusan kedua ini juga aku tambahkan sedikit bumbu seperti garam, gula merah, bawang merah dan putih serta ketumbar halus, sedikit saja,..jadi seperti di bumbuin baceman, tapi lebih ringan..agar ketika di olah tidak bentrok rasanya dengan bumbu masakan lain. Jadi sekedar ada rasanya sedikit. Namun jika mau rasa asli Babat Iso, waktu perebusan kedua, cukup di beri sedikit garam saja. Nanti jika mau di masak, tinggal di bumbuin sesuai selera. Kalau Yodha lebih suka yang sudah aku bumbuin bacem ringan dulu sebelum di olah lagi menjadi Babat Gongso atau Nasi Goreng, jadi lebih gurih, katanya.

Oke..untuk resep Babat Gongso..sudah pernah aku share di SINI ya teman-teman..resepnya. Untuk Nasi Goreng Babat juga..sudah pernah aku tulis di SINI. Selamat mencoba..dan jangan ragu untuk mengolah Babat Iso ya..enak kok..asal..jangan terlalu sering dan terlalu banyak ya..hihi.

DD

2 comments :

  1. Bikin ngiler banget nih @.@ emang babat favorit banget hehe

    ReplyDelete
  2. bun prestonya berapa lama yaa

    ReplyDelete